Berau Coal Dampingi Nursalim Mengubah Kebun Sederhana Menjadi Ekosistem Ekonomi Keluarga

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di Kampung Maluang, Kabupaten Berau, sebuah rumah panggung sederhana menjadi tempat Nursalim tinggal bersama istri dan tiga anak perempuannya. Di sekeliling rumah itulah ia mengelola kebun kakao dan perlahan membangun sumber penghidupan keluarganya.

 

Ratusan tanaman kakao tumbuh subur, tanaman yang beberapa tahun lalu masih mampu berkembang lantaran terbentur keterbatasan modal, sekarang ini mulai menunjukkan hasil yang membanggakan.

 

Sebelum mengenal program pengembangan kakao, Nursalim lebih banyak menanam tanaman hortikultura, terutama sayuran.

 

Kakao sebenarnya bukan tanaman baru baginya. Ia pernah mencoba menanamnya, namun keinginan tersebut tidak berkembang karena kemampuan untuk membeli bibit dan sarana produksi masih terbatas.

 

“Selama saya bertani sering menanam hortikultura. Pernah juga kakao, tetapi karena keterbatasan modal dan tidak bisa membeli bibit, saya lebih banyak bertani sayur-sayuran,” tuturnya.

 

Kondisi itu berubah pada 2025. Nursalim mendapat kesempatan mengikuti Program Pengembangan Kakao yang merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Berau Coal pada pilar ekonomi.

 

Melalui program tersebut, Berau Coal tidak hanya memberikan sarana produksi, tetapi juga memberikan pendampingan agar petani memiliki pengetahuan untuk mengembangkan komoditas kakao. Bagi Nursalim, dukungan tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mencoba sesuatu yang sebelumnya sulit ia lakukan.

 

Ia menerima 800 bibit kakao, pupuk, dolomit, obat pengendali hama, serta kompos. Bibit alpukat, kelapa, dan petai juga diberikan untuk ditanam sebagai tanaman penaung.

 

Namun, yang menurutnya tidak kalah penting adalah pengetahuan dalam pertanian. Nursalim difasilitasi mengikuti sekolah lapang kakao untuk mempelajari teknik budidaya dan perawatan tanaman.

 

“Saya sangat terbantu dengan adanya bantuan dari Berau Coal. Kami yang termasuk petani golongan bawah belum mampu untuk membeli bibit kakao, pupuk, dan lain-lain,” katanya.

 

Sepuluh bulan setelah ditanam, ratusan tanaman kakao tersebut mulai menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Daunnya tumbuh subur,  batang mulai berkembang. Bahkan beberapa tanaman muda mulai mengeluarkan buah.

 

Tetapi Nursalim tidak terburu-buru mengejar panen, buah yang muncul justru dipangkas. Ia memilih bersabar agar tanaman memiliki waktu untuk membentuk struktur yang lebih kuat sebelum memasuki masa produktif.

 

Di titik itu, Nursalim tidak hanya sedang merawat tanaman. Ia sedang menunggu hasil dari sebuah proses panjang. Dan sembari menunggu kakao menghasilkan, ia memastikan lahan tetap memberikan pemasukan. Lahan seluas setengah hektare tidak dibiarkan kosong.

 

Melalui dukungan Berau Coal (BC), Nursalim juga memperoleh benih jagung yang kemudian ditanam di sela pengembangan kebun. Jagung menjadi sumber pendapatan sementara sembari menunggu tanaman kakao memasuki masa produktif. Hasilnya cukup berarti bagi keluarganya.

 

Dalam waktu 10 bulan, Nursalim telah empat kali melakukan panen. Setiap kali panen, hasilnya mencapai sekitar 40 karung jagung.

 

“Dari menanam jagung saja, dalam 10 bulan ini saya sudah empat kali panen, menghasilkan sekitar 40 karung jagung dalam satu kali panen. Ini sangat membantu ekonomi keluarga saya,” ungkapnya.

 

Bagi Nursalim, pola tersebut membuat lahan tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Ada hasil yang bisa diperoleh sekarang, sembari menunggu hasil yang lebih besar dari kakao pada masa mendatang.

 

Dari sinilah cara Nursalim mengelola kebun berkembang lebih jauh. Ia mulai menerapkan konsep pertanian terpadu atau integrated farming. Tanaman, ternak, dan ikan tidak dipandang sebagai usaha yang berdiri sendiri.

 

Semuanya dihubungkan. Nursalim memelihara kambing milik tetangganya. Kotoran kambing kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman kakao. Sementara daun tanaman penaung dapat dimanfaatkan sebagai pakan kambing.

 

“Jadi saling berkesinambungan, sehingga kami tidak bergantung pada pupuk kimia,” jelasnya.

 

Konsep serupa diterapkannya pada budidaya lele jumbo. Nursalim memulai dari 1.000 benih ikan yang diperoleh melalui dukungan program. Setelah dikembangkan dan dijual, hasilnya digunakan kembali untuk membeli pakan sekaligus menambah jumlah ikan.

 

Dari sana, ia mampu menambah sekitar 3.500 bibit ikan. Bagi Nursalim, proses tersebut menjadi bukti bahwa bantuan dapat menjadi modal untuk berkembang, bukan sesuatu yang harus terus ditunggu.

 

“Kalau kita konsisten, sebenarnya bantuan itu cukup sekali diberikan dan kita bisa kembangkan sendiri, tidak harus dibantu terus-menerus,” ujarnya.

 

Apa yang dilakukan Nursalim menunjukkan bahwa perjalanan menuju kemandirian petani tidak selesai ketika bantuan diberikan. Justru, di situlah proses berikutnya dimulai. Bibit harus dirawat, tanaman harus dipantau, lahan harus terus produktif, hasil panen harus dikembangkan kembali.

 

Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting dalam perjalanan Nursalim mengembangkan kakao. Ia mengaku bersyukur mendapat pendampingan selama proses pengembangan tanaman, mulai dari persiapan lahan hingga pemantauan pertumbuhan kakao dan kebutuhan petani.

 

“Alhamdulillah, terima kasih PT Berau Coal untuk pendampingannya luar biasa. Tim lapangan yang memantau pertumbuhan kakao, memantau kebutuhan kami para petani selama masa pengembangan kakao ini,” ujarnya.

 

Bagi Berau Coal, pengembangan kakao tersebut menjadi bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat pada sektor ekonomi, dengan arah penguatan aktivitas ekonomi masyarakat dan dukungan terhadap transformasi ekonomi pascatambang.

 

Sementara bagi Nursalim, program tersebut diterjemahkan dalam bentuk yang sangat sederhana, bagaimana lahan yang dimilikinya bisa terus menghasilkan dan suatu hari mampu menopang keluarganya secara mandiri.

 

Optimisme Nursalim tidak muncul tanpa pengalaman. Ia melihat pertumbuhan tanaman kakao di Berau cukup menjanjikan dibandingkan pengalaman bertani yang pernah dijalaninya di luar daerah.

 

“Sepengalaman saya di luar Berau, 10 bulan masa tanam kakao itu tidak seperti ini pertumbuhannya. Namun, di Berau 10 bulan kakao bisa tumbuh lebih cepat. Selain faktor konsisten, faktor kondisi tanah di Berau sangat mendukung untuk budidaya kakao,” tuturnya.

 

Karena itu, ia berharap pendampingan dapat terus dilakukan hingga para petani mampu menghasilkan dan berdiri secara mandiri. Ia juga mengajak masyarakat Berau untuk tidak ragu melihat kakao sebagai salah satu peluang usaha pertanian.

 

Menurutnya, kunci pengembangan bukan hanya pada bantuan awal, tetapi bagaimana petani konsisten merawat dan mengembangkan apa yang sudah dimiliki.

 

Hari ini, Nursalim memang belum memanen hasil besar dari ratusan tanaman kakaonya. Ia masih harus menunggu, masih harus merawat. Masih harus memangkas buah-buah muda yang muncul terlalu dini.

 

Namun, kebun itu sudah mulai memberikan hasil melalui jagung dan lele. Kotoran kambing menjadi pupuk, daun tanaman menjadi pakan, hasil penjualan ikan kembali menjadi modal. Dan 800 bibit kakao terus tumbuh menuju masa produktifnya. Di situlah cerita Nursalim menjadi lebih dari sekadar kisah seorang petani yang menerima bantuan.

 

Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah dukungan dikembangkan menjadi usaha, bagaimana satu komoditas dipadukan dengan komoditas lain, dan bagaimana sebuah kebun perlahan dibangun menjadi sumber penghidupan yang lebih beragam.

 

Berau Coal hadir dalam proses tersebut melalui bantuan sarana produksi, sekolah lapang, dan pendampingan kepada petani.

 

Sementara Nursalim mengerjakan bagian yang tidak kalah penting: merawat, mengembangkan, dan memastikan setiap peluang tidak berhenti sebagai bantuan.

Sebab pada akhirnya, yang ingin ia tumbuhkan bukan hanya pohon kakao. Ia ingin menumbuhkan kemandirian. Dan dari kebun sederhana di Kampung Maluang, perjalanan itu sedang dimulai. (sep/FN)